Ayah Aku
Dong
Oleh: adrisadrian
Hari minggu adalah hari yang dinanti nanti
oleh para pelajar karena dihari itulah mereka memiliki waktu yang banyak untuk
berpetualang ataupun hanya sekeder menghabiskan waktu untuk bermain. Kebahagian
inilah yang dirasakan oleh Bestan, Bastian dan Petra yang masi menduduki kelas
3 SD. Bisa dibilang mereka ini adalah teman dekat atau bahasa populernya
sahabat. Seumuran dan sekelas serta ruma mereka yang berdekatan dipinggir
pantai inilah yang membuat mereka selalu bersama. Namun uniknya mereka ini
memiliki penyakit yang tidak sembuh-sembuh dari dulu. Bestan memiliki kudis di
atas kepalanya, sedangkan Bastian memiliki gangguan pernapasan yang lendirnya
sering keluar tanpa terkontrol, dan Petra memiliki gatal-gatal pada area
badannya.
Hari yang dinantipun telah tiba. Suasanah yang
cerah seolah menyatu dengan perasaan.
“Bestan......Bestan....”
panggil Petra
“ada apa
Pet?” jawab Bestan dalam rumah tanpa membuka pintu maupun jendelah. Petra
yang sudah berdiri tepat di depan pintu rumah mencari-cari sosok suara itu
kemudian iapun melanjutkan
“mancing
yuk! Air laut teduh bangat pasti banyak ikan yang ganas”
“ok.
Tapi aku gantian dulu yah.” Bestan kembali menjawab
Desiran pasir pantai mengiringi langkah Bestan
dan Petra menuju perahu yang akan mereka tumpangi dan perahu itu itu telah
terlihat sosok yang tidak asing bagi mareka. Yah, orang itu adalah
Bastian. Senyuman manisnya menjadi
sambutan hangat untuk kedua sahabatnya itu sambil diarahkan loyang kecil
berwarna biru dihadapan mereka berdua yang berisi cacing sebagai umpan untuk
mancing.
“gitu
dong Bas. Kalu kaya ginikan aku jadi
semangat mancingnya” sahut Bastian dengan nada memuji. Taklama setelah itu
senyum bastian lenyap beserta usapan lengan bajunya yang mengarah pada hidung
yang telah berlendir.
Ayunan dayung yang perlahan namun pasti, angin
sepoi-sepoi yang menerkah wajah, air laut yang begitu jernih serta pancaran
mentari yang suda mulai menghangat
menjadi suasanah indah yang terlukis dengan kesederhanaan namun memiliki nilai yang tak terhingga bahkan waktu terasa
cepat berlalu untuk menuju lokasi
pemancingan.
“turunkan
jangkarnya disini Bes” teriak petra selaku pengemudi kendali perahu.
“ok.”
Bastian yang berada paling depan langsung melaksanakan perita Petra.
Taklamah setelah itu keheningan mulai bangkit.
Tak satupun yang angkat bicara. Mereka fokus pada tali trasparan yang mereka
genggam erat dihadapannya. Waktu terus berputar namun hasil yang mereka peroleh
masih sangat sedikit bahkan ikanpun enggan untuk menarik cacing yang menari ria
dalam tancapan mata kait itu. Mentaripun kian tersa hangatannya hingga membuat
penyakit merekah mulai terasa nyata.
“ Gays,
maukah kalian menerima tantanganku?” tiba-tiba Bastian memecah sepih
seketika hingga akhirnya Bastian dan Petra beralih panddangan dan tertuju padah
sosok Bestan. Kemudian Bestan melanjutkan
“jadi
gini. Gimana kalu kita buat kesepakatan bahwa kita harus menahan penyakit kita
dibawah terik matahari ini dimana saya tidak boleh melindungi kepala saya, dan
kamu (jari telunjuk mengarah pada Bastian) tidak boleh mengusap lendir hidungmu
dan kamu Pet, tidak boleh menggaruk badan mu. dan disinilah kita akan lihat
sipa pahlawan yang sesungguhnya” suara Bestan yang menggebuh-gebuh serta
mata melotot dan senuman sinis. Melihat tingkah Bestan, Bastian dan Petra tidak
menerimanya dengan baik karena Bestan terlihat sombong dan seolah menggap remeh
mereka hingga akhirnya Bastian dan Petra memutuskan untuk menerima tantangan
Bestan.
Terik matahari kian menyengat. Kudis kepala
Bestan seolah terasa meletus satu persatu, lendir hidung bastian yang suda
mulai turun dengan tenang lalu dihirupnya kembali dengan sekuat tenaga dan
gatal di badan Petra sudah tidak mampu terbendung lagi. Namun mereka tetap
gengsi untuk mengelah hingga masi tetap membuat mereka bertahan. Namun taklama
kemudian Bestan sudah tidak mampu menahan terit matahari yang menyengat
dikepalanya namun ia malu bila ketahuan menyerah pertama hingga akhirnya ia
mendapatkan ide.
“ kalian
tau nggak, kalu masi mudahnya, ayah aku dulu perna naik pesawat loh.”
Bestan kembali memecah sepih dan kepala Bastian dan Petra kembalih menoleh pada
Bestan.
“jadi saat
ayahku naik pesawat ciuuuuuuuuuuung..... ( diperagakan dengan tangan serta
jari yang tertutup rapat) pesawatnya
mendadak berhenti di udara ”dan tangan Bestan tepat berhenti diatas
kepalanya yang membuatnya sedikit legah.
Bastian yang melihat kejadian itu, sebenarnya
ia paham bahwa ini adalah akal-akalan Bestan untuk menutupi kepalanya namun
karena ia juga sudah tidak mampu membendung lendir yang meleleh halus
dihidungnya Bastianpun mulai angkat bicara
“ kalau
ayahku sih masi mudahnya perna memanah rusa liar hanya dalam satu tarikan”
kemudian bastianpun memperagakan sosok orang yang sedang memanah yang seolah
benda itu nyata digenggamannya. Kemudian tangannya diarahkan kedepan sambil
memegang panah lalu hidungnya ditempelkan pada lengan bajunya dan panahpun
mulai ditarik hingga lendir di hidungnya terkikis habis lalu dilepas.
Bastianpun menghentikan adengannya dengan senyum imut tanpa beban sedikitpun.
“apaan. Baru gitu aja udah sombong.” Petrapun
angkat bicara seketika. “ ayah aku dong
saat mudahnya sangat jago memainkan alat musik gitar bahkan perna ditawarkan
untuk mengiringi Madona dan Bionce nyanyi namun dia menolak bahkan Ayahku dikenal
sebagai anak-anak deker” Petra dengan suara yang menggebuh-gebuh dan
tingkat kepercayaan diri 100%. Kemudian iapun mulai memperagakannya
“jreng........jreng......
Gali-gali-gali-gali
lubang
Gali-gali-gali-gali
lubang
Lubang
digali digali lubang
Tutup
menutup lubang
Lubang
digali digali lubang
Tutup
menutup lubang
Gali lubang
tutup lubang
Pinjam uang
bayar utang
Gali lubang
tutup lubang pinjam uang bayar utang
Gali-gali-gali-gali
lubang
Gali gali gali gali gali........”
petra menyanyi dengan penghayatan yang begitu mendalam serta mata tertutup dan
petikan demi petikan gitar yang diumpamakannya itu diarahkan pada badannya yang
terasa gatal hingga saat ia membuka mata perasaannya menjadi fresh namun Petra
kaget mendadak melihat Bastian yang masi asik berjoget denga gaya tarikan panah
yang lengannya ditempelkan pada hidung dan Bestan yang sudah menutupi kepalanya
dengan loyang tempat cacing dengan tangan yang menari-nari perlahan. Setelah itu
mereka kembali tertawa menganga bersama-sama. Dan kejadian itu telah memberi
pelajaran bagi mereka bahwa untuk menjadi sosok pahlawan tidak harus menyakiti
sahabat sendiri bahkan yang harus dilakukan sebagai sosok pahlawan adalah
bagaimana cara meringankan beban orang lain utamanaya sahabat bukan malah
sebaliknya. Terkadang kita membiarkan pengalaman hidup kita berlalu begitu saja
tanpa memetik hikmah di dalamnya padahal pengalaman hidup adalah guru terbaik
bagi diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar