Jumat, 08 Mei 2015

cerpen anak dan remaja yang lucu



Ayah Aku Dong
Oleh: adrisadrian

Hari minggu adalah hari yang dinanti nanti oleh para pelajar karena dihari itulah mereka memiliki waktu yang banyak untuk berpetualang ataupun hanya sekeder menghabiskan waktu untuk bermain. Kebahagian inilah yang dirasakan oleh Bestan, Bastian dan Petra yang masi menduduki kelas 3 SD. Bisa dibilang mereka ini adalah teman dekat atau bahasa populernya sahabat. Seumuran dan sekelas serta ruma mereka yang berdekatan dipinggir pantai inilah yang membuat mereka selalu bersama. Namun uniknya mereka ini memiliki penyakit yang tidak sembuh-sembuh dari dulu. Bestan memiliki kudis di atas kepalanya, sedangkan Bastian memiliki gangguan pernapasan yang lendirnya sering keluar tanpa terkontrol, dan Petra memiliki gatal-gatal pada area badannya.
Hari yang dinantipun telah tiba. Suasanah yang cerah seolah menyatu dengan perasaan.
Bestan......Bestan....” panggil Petra
ada apa Pet?” jawab Bestan dalam rumah tanpa membuka pintu maupun jendelah. Petra yang sudah berdiri tepat di depan pintu rumah mencari-cari sosok suara itu kemudian iapun melanjutkan
mancing yuk! Air laut teduh bangat pasti banyak ikan yang ganas
ok. Tapi aku gantian dulu yah.” Bestan kembali menjawab
Desiran pasir pantai mengiringi langkah Bestan dan Petra menuju perahu yang akan mereka tumpangi dan perahu itu itu telah terlihat sosok yang tidak asing bagi mareka. Yah, orang itu adalah Bastian.  Senyuman manisnya menjadi sambutan hangat untuk kedua sahabatnya itu sambil diarahkan loyang kecil berwarna biru dihadapan mereka berdua yang berisi cacing sebagai umpan untuk mancing.
gitu dong Bas. Kalu kaya ginikan aku jadi semangat mancingnya” sahut Bastian dengan nada memuji. Taklama setelah itu senyum bastian lenyap beserta usapan lengan bajunya yang mengarah pada hidung yang telah berlendir.
Ayunan dayung yang perlahan namun pasti, angin sepoi-sepoi yang menerkah wajah, air laut yang begitu jernih serta pancaran mentari yang suda mulai  menghangat menjadi suasanah indah yang terlukis dengan kesederhanaan namun memiliki  nilai yang tak terhingga bahkan waktu terasa cepat berlalu  untuk menuju lokasi pemancingan.
turunkan jangkarnya disini Bes” teriak petra selaku pengemudi kendali perahu.
ok.” Bastian yang berada paling depan langsung melaksanakan perita Petra.
Taklamah setelah itu keheningan mulai bangkit. Tak satupun yang angkat bicara. Mereka fokus pada tali trasparan yang mereka genggam erat dihadapannya. Waktu terus berputar namun hasil yang mereka peroleh masih sangat sedikit bahkan ikanpun enggan untuk menarik cacing yang menari ria dalam tancapan mata kait itu. Mentaripun kian tersa hangatannya hingga membuat penyakit merekah mulai terasa nyata.
Gays, maukah kalian menerima tantanganku?” tiba-tiba Bastian memecah sepih seketika hingga akhirnya Bastian dan Petra beralih panddangan dan tertuju padah sosok Bestan. Kemudian Bestan melanjutkan
jadi gini. Gimana kalu kita buat kesepakatan bahwa kita harus menahan penyakit kita dibawah terik matahari ini dimana saya tidak boleh melindungi kepala saya, dan kamu (jari telunjuk mengarah pada Bastian) tidak boleh mengusap lendir hidungmu dan kamu Pet, tidak boleh menggaruk badan mu. dan disinilah kita akan lihat sipa pahlawan yang sesungguhnya” suara Bestan yang menggebuh-gebuh serta mata melotot dan senuman sinis. Melihat tingkah Bestan, Bastian dan Petra tidak menerimanya dengan baik karena Bestan terlihat sombong dan seolah menggap remeh mereka hingga akhirnya Bastian dan Petra memutuskan untuk menerima tantangan Bestan.
Terik matahari kian menyengat. Kudis kepala Bestan seolah terasa meletus satu persatu, lendir hidung bastian yang suda mulai turun dengan tenang lalu dihirupnya kembali dengan sekuat tenaga dan gatal di badan Petra sudah tidak mampu terbendung lagi. Namun mereka tetap gengsi untuk mengelah hingga masi tetap membuat mereka bertahan. Namun taklama kemudian Bestan sudah tidak mampu menahan terit matahari yang menyengat dikepalanya namun ia malu bila ketahuan menyerah pertama hingga akhirnya ia mendapatkan ide.
kalian tau nggak, kalu masi mudahnya, ayah aku dulu perna naik pesawat loh.” Bestan kembali memecah sepih dan kepala Bastian dan Petra kembalih menoleh pada Bestan.
“jadi saat ayahku naik pesawat ciuuuuuuuuuuung..... ( diperagakan dengan tangan serta jari yang tertutup rapat) pesawatnya mendadak berhenti di udara ”dan tangan Bestan tepat berhenti diatas kepalanya yang membuatnya sedikit legah.
Bastian yang melihat kejadian itu, sebenarnya ia paham bahwa ini adalah akal-akalan Bestan untuk menutupi kepalanya namun karena ia juga sudah tidak mampu membendung lendir yang meleleh halus dihidungnya Bastianpun mulai angkat bicara
kalau ayahku sih masi mudahnya perna memanah rusa liar hanya dalam satu tarikan” kemudian bastianpun memperagakan sosok orang yang sedang memanah yang seolah benda itu nyata digenggamannya. Kemudian tangannya diarahkan kedepan sambil memegang panah lalu hidungnya ditempelkan pada lengan bajunya dan panahpun mulai ditarik hingga lendir di hidungnya terkikis habis lalu dilepas. Bastianpun menghentikan adengannya dengan senyum imut tanpa  beban sedikitpun.
“apaan. Baru gitu aja udah sombong.” Petrapun angkat bicara seketika. “ ayah aku dong saat mudahnya sangat jago memainkan alat musik gitar bahkan perna ditawarkan untuk mengiringi Madona dan Bionce nyanyi namun dia menolak bahkan Ayahku dikenal sebagai anak-anak deker” Petra dengan suara yang menggebuh-gebuh dan tingkat kepercayaan diri 100%. Kemudian iapun mulai memperagakannya
jreng........jreng......
Gali-gali-gali-gali lubang
Gali-gali-gali-gali lubang
Lubang digali digali lubang
Tutup menutup lubang
Lubang digali digali lubang
Tutup menutup lubang
Gali lubang tutup lubang
Pinjam uang bayar utang
Gali lubang tutup lubang pinjam uang bayar utang
Gali-gali-gali-gali lubang
Gali gali gali gali gali........” petra menyanyi dengan penghayatan yang begitu mendalam serta mata tertutup dan petikan demi petikan gitar yang diumpamakannya itu diarahkan pada badannya yang terasa gatal hingga saat ia membuka mata perasaannya menjadi fresh namun Petra kaget mendadak melihat Bastian yang masi asik berjoget denga gaya tarikan panah yang lengannya ditempelkan pada hidung dan Bestan yang sudah menutupi kepalanya dengan loyang tempat cacing dengan tangan yang menari-nari perlahan. Setelah itu mereka kembali tertawa menganga bersama-sama. Dan kejadian itu telah memberi pelajaran bagi mereka bahwa untuk menjadi sosok pahlawan tidak harus menyakiti sahabat sendiri bahkan yang harus dilakukan sebagai sosok pahlawan adalah bagaimana cara meringankan beban orang lain utamanaya sahabat bukan malah sebaliknya. Terkadang kita membiarkan pengalaman hidup kita berlalu begitu saja tanpa memetik hikmah di dalamnya padahal pengalaman hidup adalah guru terbaik bagi diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar